Boyd Thoriqul/ H34100029/Laskar 6

Jangan Sebut Mereka Sebagai Penganggu

Asrama 315, Gunung Batu, Bogor. Pertama kalinya aku injakkan kaki di kota seribu angkot ini. Asing terasa mendadak dalam diriku. Kota ini yang akan menjadi saksi hidupku? Setelah semua masa demi masa telah aku lewati dan aku tinggalkan bersama mereka.

Satu koper besar, satu ransel, satu kardus, satu tas kuliah, juga satu laptop. Sepertinya tak ada yang tertinggal satu pun di dalam angkot. Oh ya, masih ada Ummi, Abi, dan satu keponakanku yang belum turun dari angkot. Ku pandang sekelilingku, ternyata tak seperti yang orang katakan. Panas, polusi udara, penat aku melihat.

“Hey, cepet angkat barang-barangnya ke rumah Mas Dodo!” suruh Abi dengan mengagetkanku. Segera ku angkat kardus dan koper manuju tempat peristirahatan sementara. Memang bukan di sini lah aku akan tinggal di rantauan.

Antara sedih, rasa kehilangan, dan bangga. Ternyata kedewasaan semakin dekat, dan masa remaja akan segera hilang. Seraut wajah nan sayu salalu terbayang dalam benakku. Masa-masa aku bahagia bersama mereka. Abi dan Ummi.

***

Kicauan burung menghiasi pagi. Kemarin telah menjadi kenangan, hari ini adalah sesuatu yang harus aku jalani, besok merupakan harapan kehidupan yang harus aku capai. Kembali lagi aku harus mempersiapkan segala kebutuhan hidup. Bukan di rumah, bukan di tempat Mas Dodo, bukan di hotel, atau pun di apartment mewah yang harganya ratusan juta. Namun di tempat yang sangat sederhana, entah nyaman atau tidak, entah bersih atau kotor, aku belum mengetahuinya. Yang konon katanya, di tempati beratus-ratus orang dalam satu bangunan. Dalam space yang tak begitu luas, mungkin hanya 6×5 meter, yang di penghuni oleh 4 orang. Memang seakan buta arah, namun aku tahu tujuan.

Pukul 07.00 WIB, ku langkahkan kaki menuju tempat itu. Institut Pertanian Bogor. Harapan dan masa depanku. Seperti yang sudah kukatakan di awal, sebenarnya aku akan tinggal di asrama IPB, jauh dari orangtua, keluarga, dan segala kehidupan di kota kelahiranku, Solo.

Sampailah diriku di tempat. Tak ada asap, tak ada abu, tiba-tiba saja pikiran ini melayang jauh tinggi ke awan. Baru kusadari, ternyata telah habis masa ku untuk bermanja-manja dengan ke dua orangtuaku. Dan mulai hari itu, diriku harus bertahan dalam kemandirian.

***

Hari demi hari aku lewati bersama kawan seperjuangan di sini. Memang sangat berat di awal. Tapi tak apalah, yang terpenting adalah diriku di sini untuk meraih harapan dan masa depan yang cerah.

Sebenarnya, cerita ini baru di mulai dari bagian ini. Kini sudah satu setengah bulan aku berada di asrama IPB. Masih serasa berada pada masa SMA. Belajar, main bersama  teman, hang out bareng, kumpul-kumpul tanpa tahu maksud dan tujuan, jalan-jalan mengitari kampus, maklum baru saja jadi mahasiswa IPB. Suasana menjadi seorang mahasiswa memang belum terlalu ketara. Walaupun demikian, sudah ada perubahan yang telah terjadi. Terutama dalam kemandirian hidup. Kegiatan rumah tangga, seperti mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel, sampai dengan mengatur keuangan. Memang belum terlalu banyak. Namun, hari-hari terasa menyenangkan.

***

Tak terasa kini menginjak bulan puasa. Di mana orang banyak berlomba-lomba dalam kebaikan. Pada malam itu, hari kesekian pada minggu pertama di Bulan Ramadhan, aku dan teman-teman mengadakan buka bersama di salah satu tempat makan sekitar kampus. Sederhana tetapi yang terpenting kami bisa memaknai arti dari berbuka puasa bersama.

Di tengah kami menikmati hidangan buka puasa, datanglah seorang anak kecil, usia sekitar 7 atau 8 tahun, dengan pakaian yang sebenarnya tak layak pakai, dengan keadaan fisik yang mungkin belum sempat mandi selama berapa hari, dan aku pun tak tahu. Dengan wajah yang sayu merindu, berbelas ingin kasih sayang, berpengharap perhatian, juga tertekan akan suatu tuntutan.

Dengan sebuah alat bermelodi, dengan beberapa tali atau senar, dan sebuah sobekan kardus atau apa lah itu, dan wajah yang tersenyum, dia pun mendekat kepada kami. Lalu dia menyanyikan lagu dengan lirik “malam ini hujan turun lagi, bersama kenangan  yang mungkin luka dihati. Luka yang harusnya dapat terobati yang kuharap tiada pernah terjadi, ku ingat saat ayah dan kami mulai kelaparan, hal yang biasa buat aku hidup dijalanan…..  ”

“ Dek, kakak kasih makan mau, ya?” tawar dari salah satu temanku.

“ Nggak kak,” tolak Ismail (ya, nama yang begitu indah) dengan halusnya, sembari terus memetikkan jari jemarinya di atas alat musik kesayangannya.

“ Nggak apa-apa, dek. Ya? Mas tolonng bungkuskan nasi 1, sayur dan lauknya,”

Sungguh malang nian Ismail. Hatiku hanya bisa menangis. Menangisi nasib anak seusia dia, yang seharusnya menikmati masa-masa yang penuh permainan.

Setelah lama di tempat makan itu, Ismail pun pergi bersamaan dengan kami yang meninggalkan warung sederhana tersebut.

Seperginya Ismail dari hadapanku, anehnya pikiranku masih tertuju pada anak tersebut. Buat apa sih? Apa penyebabnya? Kenapa harus demikian? Tetapi apakah aku hanya bisa selalu dan terus berpikir tanpa adanya sebuah tindakan? Bila diperlukan suatu tindakan, bisakah aku bertindak dalam keadaan yang aku sendiri masih dalam pembelajaran kehidupan? Hanya doa? TIDAK! Memang masih banyak orang lain yang bisa membantu, tetapi apakah yang mereka pikirkan sama dengan yang aku pikirkan? Bahkan ada yang menganggap mereka sebagai peminta, memanggap mereka sebagai pengganggu, menganggap mereka sebagai pelanggar norma dan moral.

Mereka itu bernyanyi, bukan peminta. Mereka itu berkarya. Mereka itu menghibur, bukan menganggu. Mereka butuh perhatian. Mereka adalah korban dari ketidak-pedulian masyarakat dan segala elemen yang ada di dalamnya. Dan aku berada disini akan berjuang demi meraih masa depan yang cerah dan mencerahkan bangsa, tak terkecuali masalah mereka.

Dan mulai hari itu, aku dan semua temanku sadar akan keberadaan mereka. Bukan hanya sadar secara fisik, namun sadar bahwa mereka sangat butuh banyak sekali perubahan. Dan kami, bertekad untuk mewujudkan perubahan tersebut untuk Ismail-Ismail lainnya.

Boyd Thoriqul/ H34100029/ Laskar 6

Aku, Mengerti, Kehidupan

Sragen, 27 Mei 1992. Terlahirlah ia dalam keadaan suci. Boyd Thoriqul Abrar. Itulah diriku. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Karena kami suka dengan kesederhanaan. Dari kesederhanaan itulah, akan muncul sesuatu yang istimewa. Karena yang istimewa, pada mulanya adalah sederhana.

Juli 1998.

Mulailah diriku mengenal bangku sekolah. Walau belum sepenuhnya aku mengerti tentang apa yang ada di sekelilingku. Namun aku selalu mencoba untuk memahami satu per satu. Semenjak kecil, aku memang sudah dikenalkan dengan apa yang namanya mengerti dan dimengerti. Itu adalah point penting dalam kehidupanku. Dari seorang ayah yang sangat bijaksana, aku sering mendapatkan banyak makna hidup dan kehidupan. Bagaimana cara hidup, juga bagaimana memberi makna hidup kepada orang lain. Memang masih terlalu dini jika aku harus belajar tentang titik demi titik yang aku jalani. Tetapi aku sangat menikmatinya. Bukan karena tuntutan, namun memang keinginan.  Bukan karena tujuan lain, namun agar hidupku menjadi lebih berarti dan lebih berguna untuk oranglain.

Selama diriku duduk di bangku sekolah dasar, memang belum terlalu  tampak apa saja sebenarnya makna dari mengerti dan dimengerti dalam hidup dan kehidupan. Walau diriku selalu berusaha mengorek-ngorek setiap sisi kejadian yang terjadi.

***

“Mungkin belum saatnya, Nak. Tunggulah sampai kau bisa memaknai kehidupanmu sendiri,” kata ayah saat aku masih dalam keadaan mata terpejam. Pagi itu langsung kubangkitkan badan dan kutatap wajah senyum ayah.

“Sekarang kau sudah beranjak remaja. Semua tawa riang kecilmu sebentar lagi hilang dan terganti dengan senyum penuh kebijaksanaan. Tingkah lucumu juga akan sirna dan terganti dengan gejolak jiwa seoarng remaja yang berani dalam menantang kehidupan,”

“Maksud ayah?” penuh tanya di dalam diri ini.

“Sudahlah. Cepat kau bangun, rapikan tempat tidurmu, mandi, dan segera pergi ke sekolah.”

Wajah ini memang tak semuda dulu, tawa ini memang tak selucu kala itu. Waktu terus berjalan. Tak terasa diriku telah berseragam putih biru.

Tahun 2004.

Diriku mulai melangkahkan kaki pada bangku sekolah menengah pertama. Tak ada yang begitu berbeda. Semua hampir sama. Belajar, main bersama teman, dan lagi-lagi semuanya hampir sama.

Senja hampir berganti malam. Cakrawala pun enggan untuk meniupkan angin semilirnya. Sedikit demi sedikit mereka datang kepadaku. Kusambut dengan penuh senyuman juga debar-debar dalam dada. Bukan karena apa-apa, tetapi apakah aku sangggup? Padahal diriku saja belum sepenuhnya bisa.

“Ayah, apakah aku bisa? Kenapa mereka terlalu percaya kepadaku?” tanyaku pada ayah.

“Tidak semua orang menjadi pilihan mereka. Ayah yakin, sesudah kau menemukan semua jawaban pada masa kecilmu dulu, Insya Allah kau akan mudah menjalaninya. Semua berawal dari keyakinan dalam dirimu,”

Semakin berat kata-kata ayah, sehingga terlalu sulit aku mencerna maksud yang ada di dalamnya.

Tanpa ragu dan tanpa basa-basi, mereka selalu bercerita tentang semua yang sedang terjadi. Dan tanpa ada satu keraguan dan penuh keyakinan, kujawab dan kubantu mereka. Selama kehidupan pada masa itu terus berjalan, banyak hal dari mereka yang masuk dalam kehidupanku. Namun tak masalah bagiku.

Waktu terus berdentang menunjukkan waktu yang semakin sore. Sebelum malam datang, aku harus berlari sekencang mungkin untuk menggapai masa selanjutnya dan mengakhiri masa yang telah terlampaui.

***

Kini masa depanku semakin dekat. Masa mudaku semakin terkoyak oleh jaman. Jari-jemari pun semakin serius menorehkan tinta dalam buku ilmu pengetahuan. Aku pun semakin jarang bahkan kadang sehari penuh tak bertemu keluarga. Karena jarak dan masa depan.

Tahun 2007.

Kubuka lagi diary baru dalam lembar baru kehidupanku. Dan turut kutempel lembaran-lembaran kehidupan yang telah kulalui. Dahulu adalah dasar dari yang sekarang. Sekarang merupakan lanjutan dari yang dulu. Dahulu, sekarang dan nanti adalah suatu proses.

Warna langit dalam kesucian. Warna kehidupan dalam peralihan. Bukan lagi remaja, tetapi juga bukan manusia yang dewasa. Masa abu-abu putih. Yang konon kata orang merupakan masa yang paling indah dalam kehidupan. Namun juga masa paling rumit, menurutku.

Kini kuberanjak ke luar kota demi mencari kemajuan dalam diri. Sebelum ku terjun lebih dalam kehidupanku yang sekarang, aku lebih siap dengan semua yang akan terjadi.

“Hai, namamu siapa?” Tanya seorang teman baruku.

“Boyd Thoriqul Abrar, panggil saja Boyd,”

Masa-masa perkenalan memang seperti biasanya. Kalau orang bilang, “Lempeng” katanya. Atau “flat”. Datar maksudnya. Tetapi akan lebih bermakna jika kita memberi kesan yang positif pada orang yang baru saja kita kenal. Supel. Itu yang sedang aku jalani. Berusaha mendekat dengan semua orang, dan berusaha agar semua teman menerima aku dengan apa adanya. Tanpa tuntutan ini, itu, yang satu, yang dua, ke kanan, atau ke kiri.

Lambat laun ternyata mereka semua menerimaku dengan apa adanya. Bahkan bukan hanya pada satu angkatan. Banyak dari mereka yang bercerita denganku tentang diri mereka. Jikalau hal tersebut merupakan hal buruk, maka aku selalu berusaha untuk mencarikan solusi. Jikalau hal tersebut merupakan hal yang menyenangkan, diriku ikut dalam suasana keseanangan yang sedang mereka alami. Seterusnya dan demikian.

“Ayah, kenapa orang-orang suka mencurahkan hatinya kepadaku? Dan kenapa aku sendiri sulit mencurahkan hatiku sendiri? Bahkan banyak masalah yang aku pun turut menyelesaikan, tetapi aku sendiri sulit mencari teman yang mau menyelesaikan masalahku? Kenapa semua serasa tidak adil? Apakah aku harus selalu menyimpan semua masalahku?”

“Nak, asal kau bisa memahami, diterima banyak orang di berbagai kalangan dan golongan itu sulit. Banyak orang yang dekat secara fisik, tapi tidak secara batin. Banyak orang yang mendapatkan pengertian, namun sulit untuk memperhatikan orang lain. Sebenarnya, hidup itu adalah mengerti dan dimengerti. Jika kau telah banyak mengerti hidup orang lain, maka sesungguhnya kau juga akan dimengerti oleh kehidupan. Semua itu ada masanya. Jika tidak sekarang, maka nanti,” kata ayah dengan penuh bijaksana.

***

Tahun 2010.

Hari-hari selalu kulewati bak detektif sedang mencari musuhnya. Bertahun-tahun aku hidup dalam pemahaman hidup orang lain. Namun, aku menikmatinya. Dan sekarang ini memang benar kata ayah, banyak orang yang mengerti akan diriku. Namun aku tak begitu saja acuh dengan orang lain. Aku tetap memperhatikan yang ada disekelilingku.

Makna hidup dan kehidupan yang ayah pertanyakan padaku tempo dulu, kini aku bisa menjawabnya. Jika kita mau mengerti akan hidup orang lain, maka kehidupan pun akan mengerti diri kita. Sebaik apa pun orang adalah dia yang mampu mengerti, walau pun sebenarnya dia butuh akan pengertian orang lain. Tetapi percayalah bahwa semua ada masanya, walau pun itu antara mengerti dan dimengerti dalam hidup dan kehidupan.

di cyber padi dengan sangat membingungkan. tp pasti bisa!!!!!!

Search